Thursday, August 11, 2016

Belajar Keberagaman dari Seorang Gus Dur

Oleh Guntur Pribadi *)

Ketika kita membincang atau membaca tentang Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur, apa yang ada dipikiran kita setelah mendengar atau membaca biografi sang pejuang kemanusiaan tersebut? Jawabannya, mungkin saja ada yang tidak terlalu minat. Mungkin ada yang biasa-biasa saja. Atau mungkin pula ada yang sangat menikmatinya tentang semua hal dari sosok Gus Dur.

Memang baiknya mengenal Gus Dur tidak sekadar ikut-ikutan. Apalagi pembacaannya tidak imbang. Karena akan sulit menemukan sisi lain dari Gus Dur yang menyimpan banyak karakter, baik itu sebagai bagian dari bangsa ini. Sebagai ulama. Sebagai kiai. Sebagai pemimpin. Maupun sebagai manusia yang memiliki selera humor.

Jika ingin mengenal Gus Dur, ada baiknya memang kita harus banyak referensi. Paling tidak menelusuri riwayatnya diperlukan ‘perjalanan’ yang tidak berkutat hanya pada tekstualitas mengenai segala hal tentang Gus Dur. Diperlukan pula kemampuan mengaktualisasikan pemikiran-pemikirannya melalui aktivitas-aktivitas sosial yang berpihak kepada kaum lemah.

Membuka riwayat sepak terjang Gus Dur, baik itu ketika ia menjadi aktivis santri, aktivis pemuda, aktivis sosial, hingga ketika dipercaya memimpin Nahdlatul Ulama (NU) dan juga sebagai seorang pemimpin negara, kita tentunya akan banyak menemukan dan belajar dari sikap atau cara berpikir Gus Dur yang penuh pengabdian terhadap umat dan bangsa.

Membaca pemikiran Gus Dur tidak cukup pula sekadar tekstual. Karena tentu tidak akan banyak didapatkan dari nilai-nilai yang ada dalam pemikirannya jika pembacaan terhadap Gus Dur dengan sekadarnya saja atau hanya sebagai pengagum Gus Dur tanpa dasar.

Gus Dur yang seringkali dinilai kontroversial akan sangat tepat bila dalam hal pembacaan teradap pemikirannya dilakukan secara kontekstual dan mendalam. Mengapa? Karena lompatan berpikir Gus Dur yang kerap melampaui batasnya tidaklah mudah dipahami tanpa model pembacaan yang kontekstual dan mendalam.

Artinya secara kontekstual dan mendalam pembacaan terhadap pemikiran Gus Dur sangat penting untuk kepentingan hari ini dan ke depan Indonesia, terlebih dalam menghadapi ancaman disintegrasi dan peminggiran kemanusiaan. Karena, sebagai bangsa dengan suku, etnis, budaya, dan bahkan agama yang pluralistik, bukanlah tidak mungkin potensi ancaman perpecahan itu ada.

Pentingnya melakukan pembacaan terhadap pemikiran Gus Dur secara kontekstual dan mendalam tersebut, tentu saja sebagai upaya menangkal potensi-potensi perpecahan dengan memahami nilai-nilai kebersamaan dan keberagaman yang ditanamkan oleh Gus Dur. Seperti kita tahu, Gus Dur sendiri seringkali menyerukan pentingnya persatuan bangsa, kebersamaan umat, toleransi, hingga menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

Khusus perhatiannya terhadap soal-soal kemanusiaan di negeri ini, Gus Dur dalam sepak terjangnya tak dapat dipungkiri memiliki komitmen tinggi dalam hal itu. Upayanya menentang dan juga melakukan ‘pembongkaran’ tembok-tembok diskriminasi kemanusiaan setidaknya telah mengantarkan bangsa ini kemudian mampu melek terhadap ketidakadilan yang telah lama dilakukan oleh penguasa, terutama di masa rezim Orde Baru berkuasa. 

Satu contoh upaya Gus Dur ‘membongkar’ tembok diskriminasi adalah mengenai soal kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan keyakinananya. Di era Gus Dur, jumlah agama yang diakui negara bertambah menjadi enam yakni dengan masuknya Kong Hu Cu. Sebelumnya hanya lima agama yang diakui oleh negara. Bukan hanya itu saja, Gus Dur juga membebaskan masyarakat Kong Hu Cu menjalankan ibadah agamanya dan merayakannya secara terbuka.

Kita tahu, di masa rezim Orde Baru diskriminasi terhadap etnis Tionghoa terjadi. Namun, di era Gus Dur ruang kemerdekaan dalam menjalankan agama dan keyakinannya bagi kaum Tionghoa itu dibuka. 

Perjuangan Gus Dur mengenai kemanusiaan dan kebebasan menjalankan ibadah jika dilakukan pembacaan secara mendalam melebihi tekstualitas pemikirannya, tentu akan banyak kita temukan nilai-nilai kesadaran dalam beragama yang diajarkan dan diwariskan oleh seorang Gus Dur kepada kita. 

Pemikiran dan sikap humanis Gus Dur dalam urusan kemanusian tentu bukan tanpa alasan. Gus Dur tidak buta dalam memahami ajaran-ajaran Islam. Justru berangkat dari keimanan yang dimilikinya itu, Gus Dur menyampaikan gagasan dan sikapnya dengan tidak melepaskan landasan-landasan agama yang menyertai.

Sebagai misal dalam hal keberagaman, Gus Dur memahaminya adalah sebagai keharusan. Bagi Gus Dur, keberagaman itu adalah rahmat yang telah digariskan Allah. Karena itu, menolak keberagaman atau kemajemukan adalah pengingkaran terhadap pemberian ilahi.

Dari sini, kita kemudian dapat kembali belajar dari Gus Dur yang ramah dan damai dalam mengaktualisasikan teks-teks agama. Cara-cara semacam ini pulalah yang sesungguhnya diperlukan pada bangsa yang memiliki keberagaman suku, etnis, budaya, bahasa, hingga agama. 

Beragama dengan penuh kedamaian, menghormati perbedaan, menjunjung keadilan, dan menghargai kemanusiaan, adalah di antara cara beragama dari seorang Gus Dur dalam membumikan ajaran-ajaran Islam untuk kepentingan umat dan bangsa.


Untukmu, Gus. Al-Fatihah...

*) Tulisan penulis ini pernah dimuat di:   http://www.nu.or.id/post/read/70210/belajar-keberagaman-dari-seorang-gus-dur

KILAS CATATAN

Wartawan Bodrex vs Citizen Journalist

DALAM catatan Nasihin Masha, citizen journalism lahir sebagai sebuah perlawanan. Yakni, perlawanan terhadap hegemoni dalam merumuskan dan memaknai kebenaran. Perlawanan terhadap dominasi informasi oleh elite masyarakat. Akhirnya, perlawanan terhadap tatanan peradaban yang makin impersonal (Republika, Rabu, 7/11/2007)....selengkapnya...

Detikcom News

.: KabarIndonesia - Dari Kita Untuk Kita :.